Laman

Kamis, 16 April 2015

Perilaku Sufistik dalam Perspektif Neurosains


Bandung-Dr. Nur Samad Kamba, pakar Tasawuf fakultas Ushuluddin UIN SUnan Gunung Djati Bandung,  menerangkan bahwa agama diturunkan untuk mengembalikan kesucian. “Agama diturunkan untuk membimbing seluruh manusia agar ketika menggadap Tuhan dalam keadaan suci seperti pertama kali diturunkan di bumi,” tutur pendiri jurusan Tasawuf Psikoterapi itu dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), di Aula Utama kampus setempat, Rabu (15/4) kemarin.




Menurut alumni Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir itu, pada dasarnya agama memiliki tiga aspek penting dalam membentuk karakter manusia.

Pertama, transparasi sepiritual. Iman seseorang akan mengalami disconnection (tidak ada hubungan dengan Tuhan) jika tidak memiliki transparasi spiritual, dan akibatnya seseorang suka menyalahkan satu sama lain.

Kedua, pemaknaan hidup. Seseorang yang berperilaku sufistik memaknai yang paling baik akan keberadaanya, meskipun dalam kondisi dan keadaan apapun, karena Tuhanlah yang menempatkan dirinya pada keadaan seperti itu, dan dia tetap berusaha melakukan yang terbaik dalam kehidupannya.

Ketiga, metode penyucian diri. Manusia pada dasarnya adalah suci bersih tanpa dosa, kemudian diturunkan ke bumi berbuat khilaf dan dosa. Agama diturunkan agar manusia kembali kepada satu titik yaitu Tuhan dalam keadaan suci bersih.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Jalaluddin Rakhmat, juga salah satu narasumber mengatakan diri manusia terdapat dua sifat yang bertentangan.

“Dalam diri kita terdapat dua serigala, serigala jahat dan serigala baik. Serigala jahat memiliki sifat kemarahan, iri, dengki, sombong, ketakutan, dan dusta, sedangkan serigala baik bersifat kebahagiaan, santun, cinta, kebaikan, dan impati. kita memiliki kebebasan untuk memilih serigala tersebut tergantung mana yang kita beri makan,” ungkap pakar Tasawuf modern itu yang kini menjadi anggota DPR RI.

Kang Jalal nama sapaannya, menjelaskan tentang bahaya gelisah dapat merusak sistem otak. Apabila rasa takut, cemas, sedih, dan putus asa, dominansi pada diri kita. Potensi kecerdasan, kebaikan, toleransi akan hilang; suka menyalahkan, mudah marah, pada akhirnya dapat merusak struktur otak secara permanen. Dan setiap kita menuju kemarahan akan menghilangkan 60 detik kebahagiaan,tutur pengarang buku-buku tasawuf itu.

Sementara itu, dr. Taufiq Pasiak, ahli kedokteran di bidang saraf otak memaparkan tentang Neurosains. Menurut dia neurosains adalah ilmu yang mempelajari otak manusia dan fungsinya. Pada dasarnya ilmu tersebut sudah ada pada buku-buku kuno karya Ibnu Sina dan Ibnu Rusy. 

Dalam buku kuno tersebut sudah menjelaskan sistem otak dan strukturnya, akan tetapi Ibnu Sina dan Ibnu Rus belum bisa menjelaskan fungsi otak akhirnya dia memisahkan pengertian otak dan hati. Ilmu modern menghabungkan otak dan hati karena keduanya memiliki satu organ yaitu being. Dan konsep Neurosains dapat berkebang pesat karena bisa menjelaskan sistem otak  mendeteksi kejujuran dan kebohongan,papar dia.

Dalam dunia medis, lanjut dr. Taufik Pasiak, otak manusia memiliki dua bagian yaitu cortex dan sub cortex. Seseorang tidak bisa merasakan cinta, kasih, nikmat dan bahagia ketika otak sub cotexnya rusak, seperti yang di rasakan oleh penderita setrok, karena sifat tersebut terdapat di otak sub cotex.

Selain itu, otak memiliki beberapa karakteristik. Dia membagi menjadi 4 karakteristik. Pertama bersifat subjektif. Kedua,  sistem saraf otak bisa diubabah-ubah dengan cara meditasi, doa, kebiasaan, dan Pengalaman hidup.

“Sesuai dengan sebuah riset yang pernah dilakukan pada 1107 orang bahwa praktek spiritual dapat meningkatkan fungsi-fungsi otak seperti; meningkatkan kesadaran, komunikasi, dan meningkatkan kreatifitas otak atau bisa disebut dengan being,” tambah penulis buku Tuhan dalam Otak Manusia itu.

Ketiga, otak adalah satu-satunya pusat bahasa. Maka dari itu, antara doa khofi (tidak terdengar) dan doa jahr (terdengar) lebih utama doa jahr karena dengan suara, doa akan menggunakan terminologi dan bahasa. Keempat, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. (M. Abdul Wasik/Zidni)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar