Laman

Selasa, 07 November 2017

PUISI HARI SANTRI

I
Pada awalnya
Hanya cantrik
Perkumpulan orang-orang suci
Di kuil-kuil

Yang terdengar
Hanya puji
Pada langit-langit
Gemuruh

Seperti mantra
Kesunyian malam, membius
Lafad tembang
di alun-alun serambi

Malam-malam
Diatas gubuk
Dibawah lampu uplik
Serat ditulis



Alhamdu
"utawi sekabehane puji"
"iku" lillahi
"tetep kedue Allah"

Khas pegon
Menafsir lafadz Arab
Di tlatah Dwipa

Masa bertiup
Diera para Wali
Katanya
"Mereka belum siap
Terhapus tradisi"

Sehangat hati
Mereka berpelukan
"kami siap di era kalian"

Di sela-sela istirahat
Di sisa-sisa perjuangan

Tempat wudhu arca sunan kudus
Wayang kulit sunan kali Jaga
Lemah Abang Syekh Siti Jenar

Sepotong
Sepasang peradaban
Bercahaya
Seterang mimpi2 para Nabi

Matahari terbit di Ponorogo
Ki Kasan Besari
Menggoreskan Pegon
Penuh rimba

Mereka tersentuh
Pada nada dan doa

Tuhan
Yang awalnya ditulis pada serat
Berubah huruf
Arab melayu

II

Pada keduanya
Hanya santri
Di Padepokan
Dan pondok2 suci

Seperti semula
Mewarisi tradisi
Menulis firman dan sabda
Pada lembaran kitab

Seterang asa
Sekuat iman
Seiba rasa
Sedekat Tuhan

Mereka basah
Disungai2 kitab kuning
Yang mencandu kehausan

Menggembleng jiwa
Se-suci-suci nya
Di nyala tirakat
Sehina-hinanya nafsu
Di bara congkak

Seperti air
Melatih peka
Derap langkah kaki
Orang-orang suci

Matahari terbit
Hari2 penuh inspirasi
Matahari terbenam
Malam2 Penuh perenungan

Alangkah ruginya bila malam-malam
Berlalu tanpa manfaat
Tapi menghabiskan umur
Tak menghapus dosa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar